Corona dan Takdir Diri

Sebagai orang yang beragama kita harus beriman. Dalam Islam beriman itu setidaknya ada enam rukunnya, yaitu: percaya dengan Allah, percaya dengan malaikat Allah, percaya dengan rasul Allah, percaya dengan kitab Allah, percaya dengan hari akhir, percaya takdir baik dan takdir buruk dari pada Allah.

Bahasan takdir diri ada pada salah satu rukun iman. Takdir itu terambil dari kata “qadru-qaddar-taqdîran”, menjadi takdir dalam bahasa Indonesia. Takdir itu artinya ketetapan atau sukatan. Tentu ketetapan Allah Swt mengenai para hamba-Nya. Percaya dengan ketetapan Allah Swt bermakna bahwa semua yang terjadi yang mengenai hamba-Nya atas kehendak dan seizin Allah Swt.

Takdir itu ada dua macam, yaitu: takdir mutlak dan takdir mubram. Yang mutlak itu adalah sepenuhnya atas qudrat dan iradat Allah Swt. Yang mubram Allah memberi slot atau bagian kepada hamba-Nya untuk ikhtiar. Contoh keduanya bahwa setiap hamba itu mendapat rezeki selagi ia hidup, masuk dalam takdir mutlak. Tetapi seberapa banyak jumlah rezeki yang didapat itu Allah berikan slot atau ikhtiar kepada sang hamba. Contoh lagi bahwa setiap penyakit itu ada obatnya adalah takdir mutlak, tetapi sembuh atau tidak, seberapa lama sembuhnya seseorang, atau obat apa yang tepat dengan kondisi sakit seseorang itu Allah berikan slot atau bagian kepada hamba untuk berikhtiar. Endingnya, takdir mutlak dan takdir mubram ini setelah kejadian atau setelah terjadi hakikatnya menjadi takdir mutlak.

Setelah kejadian, apakah takdir itu sesuatu yang baik atau tidak baik, apakah menyenangkan atau menyakitkan, baru kemudian masuk makna “lâ haula walâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘azhîm—tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”. Pada posisi ini jika kita dapat meresapi kepahaman dan mengamalkan rukun iman tentang takdir ini, maka kita dapat merasakan lezatnya keimanan.

Covid-19 yang santer kita kenal dengan Corona Virus adalah merupakan takdir Allah Swt. Yaitu bahwa virus itu merupakan makhluk Allah Swt. Ialah Allah Swt yang menjadikannya. Seperti diurai di atas bahwa para hamba Allah Swt diberi bagian untuk berikhtiar melawan, menahan, dan mengobati penyebaran dan pengobatannya. Takdir diri kita hari ini bahwa kita harus ada dalam ikhtiar terkait Corona Virus ini.

Dari sisi ajaran agama, kita tidak boleh jumawa dalam menghadapi wabah Corona Virus ini. Artinya kita tidak boleh merasa paling dekat dengan Tuhan, lalu muncul ungkapan “hidup-mati di tangan Allah”. Ungkapan ini tidak sekedar jumawa tapi sangat konyol. Orang yang mengungkapkan demikian sangat bernada takabbur dengan keyakinannya. Semua orang tahu, juga semua orang percaya bahwa ketentuan hidup-mati di tangan Allah. Namun Allah Swt memberi ruang ikhtiar manusia. Maka ikhtiar mutlak harus kita lakukan. Tangkal Corona itu masuk dalam takdir mubram namun kita yang harus melakukan ikhtiar ada dalam garis takdir mutlak. Mutlak dan wajib berikhtiar.

Oleh karena itu, saya turut mengimbau bahwa kita wajib mematuhi semua imbauan positif tentang ikhtiat tangkal Corona ini, terutama dari pemerintah maupun dari ormas atau lembaga keagamaam dan juga ormas kemasyarakatan. Menurut saya ikhtiar melokalisir penyebaran seperti pembatasan-pembatas wilayah dan pembatasan kegiatan-kegiatan yang melibatkan orang ramai sudah sesuai ajaran agama. Beberapa hadis pun mengajarkan demikian, semua ulama juga sudah menjelaskan hadis-hadis tersebut bahwa jika ada suatu wabah di suatu wilayah maka kita jangan memasuki wilayah itu. Sebaliknya jika di wilayah kita sedang terjadi wabah maka kita tidak boleh keluar. Ikhtiar secara syariat atau secara lahiriah yang wajib kita lakukan.

Namun, kita juga mesti punya mekanisme batiniah sebagai bagian ikhtiar tangkal Corona ini. Yaitu bahwa kita juga tidak boleh sombong dengan ikhtiar lahiriah yang kita lakukan. Dalam ikhtiar lahiriah haruslah tetap disandarkan kepada Sang Yang Menjadikan wabah ini, ialah Allah Swt. Bagi orang Islam misalnya, rutinlah berdoa di setiap shalat lima waktu dan di setiap dhuha dan tahajjud. Kembalikanlah kepada Allah Swt semua ikhtiar itu. Selanjutnya dalam berikhtiar dan berdoa itu jangan panik. Terutama saat mendapat postingan berita tentang Covid-19. Karena saat ini kepanikan itu seperti mengikis keimanan. Seperti Covid-19 ini telah menggantikan posisi Malaikat Izrail. Karena kepanikan tersebut membuat banyak orang terjangkit virus keimanan yaitu seperti tidak ada Tuhan. Ini yang saya maksudkan bahwa kita harus melakukan keseimbangan antara ikhtiar lahiriah dan batiniah. Kesimpulannya, bahwa Allah telah menjatuhkan takdir-Nya bahwa permukaan bumi saat ini sedang diberi musibah berupa wabah Corona Virus. Artinya takdir kita saat ini sedang diuji oleh Allah Swt. Mungkin manusia selama ini telah melakukan kejumawahan. Ada yang mengaku negaranya menjadi polisi dunia. Diturun tentara yang diciptakan Allah Swt berupa Corona Virus, maka manusia pun kelabakan. Tank dan pesawat tempur dan rudal canggihnya tak berdaya menembaki Corona Virus. Sepeti Fir’aun dan Raja Abrahah di masa lalu tak berdaya oleh air laut dan burung Ababil. Intinya, manusia hidup di muka bumi sebenarnya tak boleh lupa diri. Tak boleh lupa bahwa manusia itu ada yang menjadikan dan mengaturnya ialah Tuhan, Allah Swt. Saat berpunya, saat berkuasa atau berkedudukan manusia harus tetap ingat bahwa telah ditetapkan/ditakdirkan oleh Allah Swt ialah segala sesuatu selain Allah di permukaan bumi tidak kekal atau hanya sementara.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *